Cara Mencintai Diri yang Tidak Narsistik

 

– Ditulis oleh Amelia Putri –

 

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

 

Mencintai diri sendiri (self-love) sering dikaitkan dengan sifat narsistik. Bahkan ada yang menganggapnya sama. Mencintai diri sendiri bukan berarti membeli dan memakai barang-barang yang mewah dan mahal, memanjakan diri di tempat spa dua kali dalam seminggu, tapi lebih kepada tindakan-tindakan atau perkataan yang penuh cinta dan penghargaan yang kita lakukan dan ucapkan kepada diri kita sendiri. Dengan mencintai diri kita sendiri, kita akan menjaga diri dan kesehatan fisik dan mental kita dengan baik, tidak mengorbankan diri sendiri untuk hal-hal yang tidak perlu, memenuhi kebutuhan kita, dan tidak perlu berusaha mati-matian untuk menyenangkan orang lain. Kondisi ini tidak bisa disamakan juga dengan sifat egois, karena tentunya mencintai diri sendiri berada pada koridor yang sehat dan tidak agresif, ofensif atau ekspansif.

 

Apa Bedanya Dengan Narsisme?

Narsisme membutuhkan pengakuan dari orang lain, sedangkan mencintai diri sendiri tidak membutuhkan hal itu. Seseorang akan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya apabila ia mencintai dirinya sendiri. Contohnya, seseorang memenangkan posisi juara satu dalam lomba menulis yang diadakan di luar negeri. Hampir tidak ada orang Indonesia yang mengetahui adanya kompetisi ini. Bagi orang yang mencintai dirinya sendiri, prestasi tersebut sangat berarti dan membuatnya lebih termotivasi. Berbeda dengan orang yang narsistik. Ia akan berusaha untuk memamerkan prestasinya tersebut demi mendapatkan pengakuan dan pujian. Bila ia tidak berhasil mendapatkannya, maka kemenangan tersebut akan terasa hampa dan tidak terlalu berarti.

 

Contoh lain yang dengan mudah bisa kita ambil adalah dari media sosial Instagram. Banyak orang di Instagram yang terobsesi untuk tampil sesempurna mungkin tanpa ada setitik pun kekurangan yang tampak. Mereka secara terbuka memamerkan kelebihan yang mereka miliki, bahkan melebih-lebihkannya sehingga seakan-akan mereka memiliki segalanya yang orang lain tidak punya, apapun yang mereka lakukan pasti hasilnya lebih baik dari apa yang orang lain lakukan, setidaknya begitulah yang ada di dalam benak mereka, dan mereka percaya orang-orang yang melihat mereka pasti berpikiran demikian. Tidak dengan orang yang mencintai diri sendiri. Mereka menerima kekurangan mereka dan mereka berusaha untuk memperbaikinya apabila diperlukan. Malah kekurangan itulah yang mereka anggap bisa menjadi keunikan mereka.

 

Orang yang narsistik tidak pernah benar-benar merasa bahagia dan puas dengan diri mereka sendiri, dengan apa yang mereka miliki, karena mereka memiliki fantasi tentang kehidupan, pekerjaan, bentuk tubuh, rumah, dan hal-lain lainnya yang lebih baik dari apa yang sudah mereka miliki. Sementara, orang yang mencintai dirinya sendiri akan merasa cukup dan menerima apa yang mereka miliki. Mereka adalah orang-orang yang nyaman dengan menjadi diri mereka sendiri, tidak perlu berpura-pura, dan mereka bahagia karenanya.

 

Melihat orang lain lebih sukses atau memiliki kelebihan dibanding dirinya akan menjadi beban bagi orang yang narsistik. Mereka akan merasa cemburu melihat kesuksesan orang lain. Sedangkan orang yang mencintai dirinya sendiri akan memberikan dukungan dan ikut merasa bangga akan keberhasilan orang lain.

 

Menjadi eksklusif, elit, spesial, adalah ambisi orang-orang narsistik. Seringkali mereka juga dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki sifat narsistik juga. Tanpa ragu mereka dapat memanfaatkan orang lain demi kepentingan mereka sendiri. Tidak menghenrankan bila orang-orang narsistik mendewakan diri mereka sendiri. Mereka ingin selalu dipuja dan dipuji. Ingin selalu menjadi pusat perhatian.

 

Orang-orang yang mencintai dirinya sendiri yang justru menghargai orang lain, suportif, berempati kepada apa yang sedang dialami oleh orang lain, dan bahkan menawarkan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan.

 

Orang-orang narsistik tidak pernah merasa benar-benar tenang karena mereka selalu cemas dengan adanya persaingan dalam hal apapun. Padahal seringkali hal itu hanya khayalan mereka sendiri. Pihak yang mereka kira bersaing dengan mereka ternyata tidak memiliki niat itu.

 

 

Cara Mencintai Diri Sendiri yang Sehat

Sebelum mencintai orang lain, kita harus belajar untuk mencintai diri kita sendiri. Berikut adalah beberapa cara mencintai diri sendiri tanpa menjadi narsistik:

 

  • Menjadi diri sendiri

Tidak perlu berusaha menjadi orang lain. Jadilah diri sendiri yang otentik dan unik, yang justru akan menjadi ciri khas dirimu. 

 

  • Menerima diri seutuhnya

Mengakui  semua kondisi, situasi, emosi dan kenyataan yang sedang dialami. Berpura-pura hanya akan membuat kita terobsesi pada hal-hal yang tidak kita miliki, dan tidak sesuai dengan realitas yang ada.

 

  • Merawat diri

Berolah raga, beristirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, mengkonsumsi cemilan yang kita sukai dalam jumlah yang cukup, mempercantik diri dengan sewajarnya, menyibukkan diri dengan aktivitas yang dapat memperkaya pengetahuan, melakukan hobi, beribadah, meditasi, adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk merawat diri, secara fisik, mental dan spiritual.

 

  • Memaafkan diri sendiri

Kadang kita melakukan kesalahan, kegagalan, atau kita memiliki kekurangan yang sulit untuk diperbaiki. Kita tidak perlu terlalu keras kepada diri kita sendiri. Bila hal itu terjadi, maafkanlah diri kita sendiri dan yakinlah kita akan berkesempatan untuk memperbaikinya di kemudian hari.

 

  • Percaya kepada diri sendiri

Berilah kepercayaan dan kesempatan kepada diri kita sendiri bahwa kita mampu melakukan berbagai hal dengan baik. Dukungan terbaik datangnya bukan dari luar, tapi dari dalam diri, karena itulah esensi dari percaya diri.

 

  • Memprioritaskan diri sendiri, berkata “Tidak”, dan membangun “healthy boundaries

Bila kita merasa lelah, maka istirahatlah. Tidak perlu memaksakan diri untuk menerima ajakan teman untuk minum kopi di café. Dengan adanya batasan yang sehat (healthy boundaries), maka orang lain akan menghargai kita seperti kita menghargai diri kita sendiri.

 

 

Biarpun mencintai diri sendiri adalah hal yang sangat lumrah dan bahkan wajib untuk dilakukan, masih banyak orang yang belum bisa mencintai dirinya sendiri. Banyak yang terlalu mengorbankan dirinya, waktu, tenaga dan bahkan uangnya untuk orang lain sehingga seringkali tidak ada lagi kesempatan untuk mencintai dirinya sendiri. Atau merasa bahwa mencintai diri sendiri adalah tindakan yang egois. Hal ini tidak jarang dapat menimbulkan masalah dan bahkan rasa benci terhadap diri sendiri. Kita perlu mencintai diri kita sendiri. Karena pada dasarnya, kebahagiaan yang paling murni berasal dari dalam diri. 

 

 

Referensi

Beach, Jenn. (2018). How We Are Confusing Self-Love with Narcissism In This Generation. Disadur dari https://www.lifehack.org/596475/how-we-are-confusing-self-love-with-narcissism-in-this-generation

Borenstein, Jeffrey, M. D. (February 12, 2020). Self-Love and What It Means. Disadur dari https://www.bbrfoundation.org/blog/self-love-and-what-it-means

 

 


 

Need To Develop Self-Love?

Book a free DIAGNOSTIC SESSION

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s