Emosi yang Tertekan, Apa Itu?

Photo by Ryanniel Masucol on Pexels.com
~ Ditulis Oleh Amelia Putri ~

Kita sering tidak dapat membedakan apa itu emosi yang tertekan dan emosi yang ditekan. Padahal ada perbedaan besar di antaranya. Keduanya merupakan tipe dari mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Menurut Sigmund Freud, mekanisme pertahanan diri ini bertujuan untuk meminimalisir rasa bersalah, kecemasan, dan perasaan tidak nyaman lainnya. Letak perbedaannya adalah pada sadar/sengaja atau tidaknya kita saat melakukannya.

Perasaan yang tertekan (repression) dilakukan secara tanpa sadar/tanpa sengaja untuk “menangkis/menghindar” dari pikiran, emosi atau impuls yang tidak diinginkan, sedangkan perasaan yang ditekan (suppression) dilakukan dengan sadar/sengaja untuk melupakan/menghindari atau tidak memikirkan serta merasakan hal-hal yang menyakitkan atau tidak diinginkan.

Suppression kadang bagus sebagai solusi jangka pendek karena menunda untuk menyalurkannya. Contohnya, saat akan memulai meeting secara daring, kita bertengkar dengan teman kita. Agar emosi kita dapat stabil dan tidak mempengaruhi performa kita dalam pekerjaan, kita memutuskan untuk menyingkirkan kekesalan dan marah kita terlebih dahulu. Begitu meeting selesai, kita akan memproses dan meluapkan emosi tersebut.

Di sisi lain, repression tidak memiliki kesempatan untuk diproses. Emosi-emosi tersebut kita hindari dan lupakan begitu saja seperti tidak ada, tapi pada kenyataannya emosi-emosi itu tidak benar-benar hilang. Mereka “terbuang” ke alam bawah sadar kita. Repression sering berkaitan dengan pengalaman dan trauma masa kecil kita karena sikap me-repress emosi tersebut pada akhirnya menjadi pola dan tertanam dalam diri kita secara tanpa sadar. Contohnya, pada saat kecil, orang tua kita sering memerintah kita untuk tidak menangis, betapapun sedihnya kita. Setiap kita ingin menangis, orang tua memarahi kita dan kita berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis agar tidak dimarahi. Alhasil, pola tersebut terbawa hingga kita dewasa. Kita cenderung untuk tidak mengekspresikan kesedihan kita dan berupaya sekeras mungkin agar tidak menangis.

HUBUNGAN REPRESSION DENGAN MASA KECIL

Mayoritas kebiasaan, tingkah laku dan pola komunikasi kita terbentuk sejak kita kecil oleh orang-orang yang merawat kita, terutama adalah orang tua kita.

Jika orang tua kita memiliki sikap terbuka dan memberikan kesempatan bagi kita untuk mengekspresikan emosi kita, bersedia untuk mendengarkan dan merespon emosi kita, mengajak kita berbicara dua arah tentang emosi yang kita rasakan, mendukung kita untuk selalu menceritakan dan menjelaskan apa yang kita rasakan, serta tidak mengkritik berlebihan dan menghakimi emosi kita atau cara kita mengekspresikannya, maka kita akan menjadi orang yang memiliki rasa nyaman untuk mengekspresikan apa yang kita rasakan. Kita tidak memiliki kecenderungan untuk me-repress emosi.

Tapi apabila orang tua kita jarang atau tidak menunjukkan atau membicarakan perasaan mereka, merasa malu atau menghukum kita karena kita mengekspresikan emosi kita, mereka mengacuhkan, tidak mendengarkan kita dan menghakimi bahwa emosi kita adalah salah tanpa penjelasan yang dapat kita terima/pahami, maka tidak heran kita akan memiliki pola untuk me-repress emosi. Kita menolak dan menghindar untuk mengekspresikan emosi kita.

Jika mengekspresikan emosi di masa kecil malah memberikan efek yang menyakitkan bagi kita, maka kita akan berkesimpulan bahwa kita akan lebih aman kalau tidak melakukannya, lebih aman untuk menghindarinya. Akhirnya begitu dewasa, kita tanpa sadar terus “mengubur” emosi yang kita rasakan.

Emosi-emosi yang tertekan sejak kita kecil hingga dewasa akan terus tertimbun di alam bawah sadar kita. Adapun jenis-jenis emosi yang sering tertekan di antaranya adalah marah, sedih, takut, kecewa, dan frustrasi. Emosi-emosi ini sering digolongkan sebagai emosi yang negatif, buruk, dan salah. Sedangkan emosi yang dianggap baik, positif, diterima oleh banyak orang dan dianggap “normal/wajar” adalah bahagia, suka cita.

EFEK SAMPING REPRESSION

Walaupun repression tidak tampak dan sering tidak terdeteksi keberadaannya, tapi emosi-emosi yang mengendap di alam bawah sadar kita itu dapat mengakibatkan munculnya kondisi ketidakseimbangan dalam kesehatan mental kita, seperti stres, depresi dan kecemasan.

Pada akhirnya, repression ini juga sering muncul ke permukaan melalui fisik kita. Di antaranya yaitu nyeri pada otot, mual dan masalah-masalah pencernaan, gangguan nafsu makan, merasa sering cepat lelah, dan gangguan tidur.

Kemarahan yang tidak terselesaikan atau tersalurkan juga memiliki efek samping bagi kesehatan fisik kita juga, di antaranya tekanan darah tinggi, dan penyakit cardiovascular.

BEBERAPA TANDA ADANYA REPRESSION DALAM TINGKAH LAKU KITA

Emosi yang tertekan biasanya tampak dalam tingkah laku dan cara kita merespon orang lain atau suatu hal.

  • Emosi-emosi sering ditekan/tertekan hingga akhirnya menumpuk dan suatu saat meledak walaupun penyebabnya adalah hal kecil.
  • Memiliki kesulitan untuk membangun hubungan dekat dengan orang lain.
  • Sulit dalam memahami perasaan orang lain.
  • Kita sering menyangka bahwa kita selalu bersikap tenang.
  • Tanpa sadar, kita menganggap bahwa marah dan sedih adalah emosi yang merugikan.
  • Cenderung memiliki kebiasaan menghindar dengan procrastinating, misalnya bermain video/online game terus-menerus, menonton TV terlalu lama (binge watching).
  • Merasa perlu untuk memegang kendali atas banyak hal.
  • Merasa cemas, stres, kepercayaan diri yang rendah, sering lupa, overeating, memiliki masalah tidur.
  • Memiliki phobia.

HAL YANG DAPAT KITA LAKUKAN

  • Menuangkan perasaan kita ke dalam tulisan atau coretan-coretan warna di jurnal.
  • Mendengarkan lagu yang cocok dengan emosi atau mood kita saat itu.
  • Belajar mengenali, mengakui, mengintegrasikan dan menyampaikan emosi yang kita rasakan dengan mengatakan kalimat-kalimat seperti “Saya merasa sedih. Saya merasa marah. Saya merasa takut.”
  • Terimalah emosi yang kita rasakan tanpa ada penghakiman dari diri kita sendiri.
  • Berbagi perasaan dengan orang yang dekat dengan kita.

Namun jika kita masih merasa sangat terganggu, stres, cemas dan depresi, bantuan dari psikoterapis dapat dipertimbangkan.

REFERENSI

Cherry, Kendra. April 25, 2021. Repression as Defense Mechanism. Disadur dari https://www.verywellmind.com/repression-as-a-defense-mechanism-4586642.

Raypole, Crystal. March 31, 2020. Let it Out: Dealing with Repressed Emotions. Disadur dari https://www.healthline.com/health/repressed-emotions.

Jacobson, Sheri. April 25, 2017. Are You Emotionally Repressed? How to Tell. Disadur dari https://www.harleytherapy.co.uk/counselling/emotionally-repressed-signs.htm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s